“Hebat! Superman berhasil menyelamatkan nyawa gadis itu”, kata Yako kagum. “Dia pemberani dan pahlawan yang layak dicontoh”, Yosi menambahkan. “Ah, aku juga mampu jadi pahlawan seperti dia”, kata Komeng dengan angkuh.

“Tolong… tolong…”, teriak seorang anak dari arah sungai. “Astaga, ayo kita tolong adik itu, Noi!”, ajak Yako. “Ya, Yako! Kasihan adik itu!”, jawab Kinoi. “Jangan menangis, Dik! kami akan mengantarmu pulang”, lanjut Kinoi. “Terima kasih, Kak”, jawab anak itu.

“Pahlawan bangsaku, terima kasih atas pengorbananmu. Aku akan melanjutkan perjuanganmu dengan rajin belajar, hormat pada guru dan orangtua”, demikian puisi yang dibaca Yosi. “Aku percaya kamu dapat melakukan semua itu, Yosi”, kata Kinoi.

“Zaman ini dibutuhkan pahlawan yang mau berjuang untuk membangun bangsa dengan sikap hidup yang baik”, ujar Yosi. “Ya! Kita dapat belajar dari bangsa yang maju”, jawab Yako. “Kok cemberut, Meng? Lakukan sesuatu yang bermanfaat donk!”, goda Kinoi.

“Kita sedih dengan sikap warga yang melakukan aksi corat-coret, tidak menghargai jasa pahlawan dan tidak menjaga keindahan lingkungan”, ujar Yako jengkel. “Betul, Ko! Bagaimana dapat menjadi warga yang baik, kalau hal-hal yang sederhana saja kita abaikan dan kita rusak?”, ucap Yosi pula. “Banyak cara dapat dilakukan untuk menjadi pahlawan, misalnya: mengikuti upacara bendera dengan tertib, saling menghargai teman yang berbeda  suku dan agama, menolong mereka yang kesusahan”, kata Kinoi.