Lukman berharap suatu saat ia dapat mengalahkan Iwan. Selama ini ia selalu menduduki rangking kedua di kelasnya. Untuk itu ia akan melakukan sesuatu agar harapannya dapat terwujud.

“Besok ulangan IPA, hmmm… aku harus menyiapkan diri baik-baik”, gumam Lukman sembari membuka buku pelajarannya. Ia mengambil selembar kertas kecil.

“Mudah-mudahan dengan kertas ini aku mendapatkan nilai seratus”, katanya lagi. Wah…ternyata Lukman membuat contekan untuk menghadapi ulangan besok! Jadi ia tidak perlu susah-susah menghafal. Tinggal buka contekannya untuk dapat menjawab soal-soal ulangan.

 

Demikianlah yang dilakukan Lukman setiap kali ia menghadapi ulangan. Ia tidak lagi menyiapkan dirinya dengan menghafal pelajaran yang akan diuji tetapi malah mengandalkan kertas contekan. Namun sepandai-pandai tupai melompat, suatu kali akan jatuh juga. Demikian juga dengan Lukman. Kecurangannya itu akhirnya diketahui oleh Iwan.

“Man… saat ujian tadi kamu menyontek ya?”, kata Iwan.

“Kamu jangan asal ngomong, Wan!”, ujar Lukman dengan nada jengkel.

“Aku tidak asal ngomong, Man! Aku melihat sendiri perbuatanmu itu”, kata Iwan. Pertengkaran keduanya menarik perhatian teman-teman mereka.

 

“Lihat itu… Lukman dan Iwan sepertinya sedang bertengkar”, kata Didi pada Leo dan Niki.

“Apa sih yang mereka pertengkarkan?”, tanya Leo.

“Sebaiknya kita ke sana saja, biar jelas”, usul Niki. Ketiganya lalu mendekati Lukman dan Iwan.

“Ada apa sih Man, Wan?”, tanya Niki penasaran.

“Ini, Ki… Iwan menuduhku menyontek saat ujian tadi”, jawab Lukman dengan cepat. Ia berusaha menutupi kesalahannya. “Kalian percaya kalau aku melakukan hal itu?”, tanya Lukman. Mendengar perkataan Lukman itu  Iwan jadi terkejut.

“Masa kamu begitu sih,Wan?”, kata Leo. Ia tidak percaya Lukman berani mencontek saat ujian.

 

Niki dan Didi juga tidak percaya karena Lukman selama ini dinilai sebagai anak yang pintar dalam kelas. Untuk apa dia menyontek. Iwan tidak dapat berkata apa-apa, sebab ketiga temannya percaya kalau Lukman tidak akan melakukan hal yang curang saat ujian tadi. Mendapat dukungan dari ketiga temannya Lukman menjadi lega. Ia berhasil menutupi kecurangannya, seolah-olah Iwanlah yang memfitnahnya. Iwan tahu, selama ini Lukman selalu berupaya untuk mengalahkannya. Hanya saja ia tidak menyangka kalau Lukman nekad melakukan hal yang curang itu.

 

“Aku harus menghentikan perbuatan curang Lukman ini”, tekad Iwan. Setiap kali ada ujian, Iwan selalu memperhatikan gerak-gerik Lukman. Dan begitu selesai ujian, Iwan akan mendekati Lukman dan memberinya teguran.

“Aku tahu kamu berusaha untuk mengalahkanku, tetapi jangan melakukan hal yang tidak terpuji itu, Man”, kata Iwan.

“Aku tidak melakukan hal itu! Kamu saja yang takut kalau aku mampu mengalahkanmu”, jawab Lukman.

“Aku tidak takut kalah, hanya saja aku tidak suka kalau dikalahkan dengan caramu itu. Berbuat curang agar mendapatkan nilai yang tinggi”, jawab Iwan.

 

Lukman tidak mendengarkan kata-kata Iwan. Ia yakin kali ini dapat meraih juara satu. Nilainya akhir-akhir ini lebih tinggi dari nilai Iwan. Lukman tidak sadar kalau perolehan nilainya tersebut didapatkan dengan cara yang curang. Yang penting baginya kali ini ia dapat mengalahkan Iwan. Sebenarnya, selisih nilai Iwan dan Lukman tidak terlalu jauh. Iwan dapat menduduki juara satu karena ia jago Matematika. Pelajaran yang kurang dikuasai oleh Lukman adalah pelajaran Matematika, disinilah kelemahan Lukman.

Bersambung…