“Aku harus menyadarkan Lukman kalau perbuatannya itu salah. Aku mau Lukman bersaing dengan jujur”, pikir Iwan. Lukman yang merasa diri yakin kali ini dapat mengalahkan Iwan, tidak lagi belajar dengan sungguh-sungguh. Ia sangat mengandalkan kertas contekannya. Suatu kali, Iwan mendekati Lukman yang sedang beristirahat setelah mereka selesai pelajaran olahraga.

“Man… aku mau bicara sebentar denganmu”, ujar Iwan sembari duduk di sebelah Lukman. Ia membawa dua bungkus es. Satu bungkus ia berikan pada Lukman.

“Terimakasih, Wan”, kata Lukman.

“Setelah kuperhatikan beberapa lama ini, kamu masih tetap juga menyontek saat ulangan”, kata Iwan.

 

“Kalau itu yang mau kamu bicarakan aku tidak mau dengar”, jawab Lukman dengan tegas.

“Dengar dulu, Man… jangan langsung marah-marah begitu”, kata Iwan mencoba menyabarkan. “Selama ini kan kamu selalu menduduki juara dua di kelas kita. Dan kamu berkeinginan untuk meraih juara pertama, itu tidak ada salahnya. Nilaimu dan nilaiku terpaut tidak jauh. Coba kamu ingat-ingat… nilai-nilai mata pelajaran yang ada di raportmu. Apakah ada mata pelajaran yang nilainya selalu rendah dari mata pelajaran yang lain?”, tanya Iwan. Sejenak Lukman memikirkan perkataan Iwan itu.

“Hmm… ada sih! Nilai Matematikaku selalu hanya tujuh”, jawab Lukman.

“Nah… aku mau membantumu dalam mata pelajaran itu”, kata Iwan.

 

Lukman memandang Iwan dengan raut wajah terkejut. Ia tidak menyangka Iwan bersedia membantunya.

“Apa Iwan tidak takut kalau nanti dirinya dapat merebut juara satu yang selalu dipegang Iwan?”, Lukman berkata dalam hati.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Man! Kamu jangan khawatir… aku juga akan mempertahankan prestasiku”, kata Iwan. Akhirnya Lukman menerima tawaran Iwan itu.

“Terimakasih,Wan! Kapan kita belajar bersama ya?”, tanya Lukman.

“Kapan pun kamu siap, aku selalu bersedia”, jawab Iwan dengan suara mantap. Ia gembira Lukman mau meninggalkan kebiasaan buruknya menyontek itu.

 

Maka setiap hari Rabu dan Jumat , Lukman belajar Matematika bersama Iwan. Dan kapan pun Lukman menemui kesulitan dalam pelajaran Matematika, Iwan dengan senang hati membantu. Saat penerimaan raport pun tiba. Lukman dan Iwan berdebar-debar menunggu pengumuman siapa yang juara satu di kelas mereka.

“Akhirnya keinginanmu terkabul juga, Man!”, kata Iwan.

“Itu kan berkat bantuanmu juga, Wan! Terimakasih ya, beberapa waktu ini kamu membantuku dalam mencapai keinginanku”, jawab Lukman.

“Kamu jangan senang dulu, Wan… aku kali ini mengalah padamu”, kata Iwan bercanda.

 

“Jadi kamu sengaja menurunkan nilaimu agar kali ini aku mendapat juara satu, Wan?”, kata Lukman dengan wajah sedih. Sedih karena Iwan mengutamakan dirinya dan bersedia menempatkan diri di posisi kedua dalam kelas.

“Ha… ha… kamu jangan kecewa begitu,Man! Kamu memang pantas kok meraih juara satu! Kali ini kamu yang juara satu… tetapi hati-hati… aku dapat saja merebutnya darimu!”, kata Iwan sembari tertawa geli.

“Ah… kamu ini, Wan!”, Lukman sadar kalau ia lagi digoda oleh Iwan. “Aku juga tidak akan kalah!”, jawabnya sembari memeluk Iwan.

 

Keduanya tertawa senang. Tidak ada lagi rasa persaingan diantara mereka. Mereka akan tetap belajar bersama. Tidak penting siapa yang akan menjadi juara satu. Mereka bersaing dengan jujur dan dengan suasana penuh kedamaian dan persahaban