Udara hari itu terasa sangat menyegarkan. Terlihat ada seekor Kelinci kecil yang berjalan dengan lambat sembari bersenandung ria. “Hati gembira ketika perut telah terisi penuh”,  gumam Kelinci tanpa sadar.

 

Sepertinya Kelinci tidak menyadari ada sosok dari belakang yang berjalan dan semakin mendekat padanya. Awalnya Kelinci tidak merasakan apa-apa, namun lama-kelamaan ia merasa dirinya sedang diikuti oleh makhluk lain. Kelinci tetap berjalan dengan lambat dan melihat keadaan di sekitarnya. Ini masih di pinggir hutan. Apakah sesuatu yang buas akan mendekat pada dirinya?

 

Kelinci mencoba memaksakan diri menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat ada seekor Singa mengikutinya.

“Huaaa, ada Singa di belakangku rupanya”, teriak Kelinci dengan suara penuh kaget. Refleks sekujur badannya gemetaran. Ia menunduk dan mengatakan,” Jangan makan aku, Singa. Jika ada salah, tolong maafkan aku. Aku masih mau hidup. Tolong, biarkan aku pergi”, ujarnya. Kelinci itu pun berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan Singa itu yang masih terdiam. Sementara Kelinci berpikir kalau dia sedang dikejar oleh Singa itu. Maka ia berlari secepat mungkin sembari memejamkan matanya.

 

“Hei, Rabi. Ada apa?”, tiba-tiba sebuah suara akhirnya menghentikan lari Rabi. Rabi perlahan membuka matanya dan betapa gembiranya ia ketika menyadari kalau temannya baru saja memanggil dirinya.

“Hosh, hosh, tadi.., aku dikejar seekor Singa, Mici! Hosh, hosh, ucap Rabi dengan nafas tersengal-sengal. Mici yang tadinya tampak biasa saja, akhirnya ikut panik saat mendengar cerita Rabi.

“Wah, gawat ini, Rabi. Bisa-bisa semua penghuni hutan akan hilang satu per satu. Aku yakin Singa yang mengejarmu tadi adalah Singa yang buas dan lapar. Dia akan dengan mudah melahap semua hewan, apalagi kita yang kecil-kecil ini”, ujar Mici ikut mengutarakan semua kekhawatirannya.

Keesokan harinya, Rabi beserta teman-temannya melakukan musyawarah. Mereka ingin mendiskusikan apa yang akan dilakukan untuk Singa itu. Tentu saja mereka tidak mau mati konyol oleh Singa buas dan lapar itu.

“Aku usul, bagaimana kalau kita memasang perangkap untuk Singa itu?”, kata Rabi.

“Aku setuju! Ini demi keselamatan semua penghuni hutan juga”, sahut yang lain.

“Itu benar! Namun, apa kita dapat melawan Singa yang buas dan lapar itu? Dia sangat berbahaya”, ujar salah satu dari mereka yang juga was-was.

 

Mici akhirnya maju dan berkata, ”Jika kita  kompak dan melakukannya bersama, Singa itu akan dapat kita perangkap. Percayalah dan jangan terlalu meremehkan diri meskipun Singa lebih kuat dari kita. Akhirnya yang lain setuju dengan usulan Mici. Dan mereka semua mulai menyusun semua rencana dengan teratur. Dalam beberapa hari ke depan, mereka akan membuat perangkap besar untuk Singa itu.

 

Dua hari berikutnya, Rabi terlihat sedang memetik buah-buahan yang ada di pohon yang rendah. Dan di saat itulah, Singa yang ia jumpai dua hari  lalu kembali menemui dirinya. Rabi benar-benar takut dan tentu saja ia segera berlari. Namun, sebelum Rabi menghilang dari pandangannya, Singa itu mengeluarkan kukunya dan menahan telinga Rabi. Rabi sudah pasrah dan tidak dapat kabur.

 

“Maafkan aku”, ucap Singa itu dengan pelan. “Tolong, bantu aku”, katanya. Perlahan Rabi membuka matanya. Apakah Singa itu baru saja berbicara dengannya?

“Aku? Kamu baru saja berbicara kepadaku?”, tanya Rabi dengan wajah ketakutan.

“Ya”, jawab Singa itu. Ia perlahan melepaskan Rabi. “Aku butuh teman”, ujar Singa itu kemudian.

                                                                                Bersambung…