Nana Ayam suka berdandan. Walaupun tidak pergi kemana-mana, ia selalu kelihatan rapi, seperti akan pergi ke pesta. Nana selalu mengikuti mode terkini. Ia tidak mau ketinggalan. Tetapi terkadang Nana tidak memperhatikan apakah mode terbaru itu cocok atau tidak dengan dirinya. Suatu kali, Nana mengikuti mode keluaran terbaru. Dengan percaya diri ia memamerkan mode yang diikutinya itu.

 

“Teman-teman, sekarang penampilanku makin cantik kan?”, kata Nana pada teman-temannya yang sedang berkumpul. Teman-temannya menoleh untuk melihat penampilan Nana. Semua tersenyum melihat penampilan baru Nana. Penampilan Nana sungguh aneh.

“Mengapa kalian senyum-senyum melihatku?”, tanya Nana sembari berputar-putar agar teman-teman dapat melihat seluruh penampilannya. “Cantik kan?”, kata Nana mengulangi pertanyaannya agar teman-teman memberi komentar atas penampilannya yang baru.

“Bagus”, kata Dina dengan nada suara datar. Ia menjawab seperti itu agar Nana tidak bertanya lagi soal penampilannya. Tetapi Nana belum puas dengan jawaban Dina. Ia ingin mendengar komentar yang lebih dari hanya sekedar kata “bagus”.

 

“Bagus atau cantik?”, tanya Nana lagi.

“Bagus… kalau dilihat dari jauh”, kata Rosa dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Nana.

“Bagaimana, Sa? Aku kurang mendengar jawabanmu”, tanya Nana penasaran.

“Bagus”, kata Rosa singkat.

“Kok hanya bagus?”, kata Nana tidak puas juga. “Jangan-jangan kalian iri dengan penampilanku ini ya? Jadi tidak mau mengucapkan kalau aku cantik”, ujar Nana dengan wajah cemberut.

“Uh… siapa yang iri?” , kata Rosa dengan nada lirih.

 

Mereka semua tidak mau menjawab sejujurnya tentang penampilan Nana itu, karena nanti Nana menyangka mereka iri padanya jika mereka menjawab dandanan Nana tidak cocok untuk dirinya. Karena tidak ada yang mengomentari kalau penampilannya cantik, Nana lalu meninggalkan teman-temannya itu dengan wajah jengkel.

“Ha… ha… ha…”, tawa teman-teman Nana setelah dia menjauh dari mereka.

“Penampilan seperti itu dikatakan cantik?”, kata Dina menahan geli.

“Ya… apa dia tidak bercermin tadi sebelum berangkat?”, kata Rosa ikut merasa geli.

“Seperti burung hantu”, kata Lola.

 

“Aku heran, Nana itu tidak melihat dandanannya atau tidak tahu dengan mode sih? Masa mode begitu ia ikuti!”, kata Rosa.

“Sebaiknya kita beri nasehat Nana agar tidak selalu mengikuti mode yang beredar di masyarakat”, saran Dina.

“Ah… biarkan saja! Nanti kalau kita nasehati disangkanya kita iri dengan penampilannya”, sanggah Lola.

“Betul kata  Lola itu, Din! Biarkan saja dia begitu”, kata Rosa .

“Kalian ini senang ya melihat teman sendiri menjadi korban mode?”, tanya Dina dengan nada agak marah.

 

“Bukan begitu, Din! Kamu kan tahu sifat Nana yang tidak mau diberitahu”, kata Rosa mencoba menyabarkan Dina.

“Kalau kamu mau menasehatinya, terserah! Nanti kalau Nana tersinggung, tanggung sendiri”, kata Lola tidak mau pusing dengan tingkah Nana yang selalu mengikuti mode tanpa melihat cocok atau tidak dengan dirinya.

Dina tidak peduli Rosa dan Lola tidak membantunya untuk menasehati Nana. Ia akan melakukannya sendiri. Biarlah ia menanggung akibatnya kalau Nana tersinggung.

 

Esok harinya, Dina pergi mengunjungi Nana. Ia ingin ngobrol dengan Nana tentang mode. Dina ingin mengarahkan Nana agar dia dapat memilih mode yang cocok untuk dirinya.

“Masuk, Din! Tumben main ke sini?”, ujar Nana.

“Ah… tidak, aku kebetulan lewat kandangmu, jadi aku singgah. Lagi ngapain, Na?”, tanya Dina.

“Ini… aku sedang melihat majalah, tadi baru aku beli”, kata Nana sembari menyerahkan majalah yang dipegangnya pada Dina.

“Bagus juga majalahnya ya?”, kata Dina sembari membolak-baliknya.

   Bersambung…