“Unta…kamu jangan makan seenaknya rumput di pekaranganku ini!”, teriak Kambing dengan nada jengkel. “Pergilah ke sana, makan di tempatmu sendiri!”, kata Kambing lagi. Meskipun mendengar teriakan Kambing, Unta tetap makan dengan santainya. Ia tidak menanggapi teriakan Kambing. Hal ini membuat Kambing semakin marah.

 

Selama ini, Unta selalu menganggap semua rumput yang berada di sekitar rumahnya adalah miliknya karena ia yang lebih dulu tinggal di sana. Tetapi Kambing merasa rumput di pekarangannya adalah miliknya, karena tumbuh di pekarangan rumahnya. Untuk menghindari setiap hari mereka bertengkar, Kambing lalu membuat pagar di sekitar rumahnya. Dengan demikian ada batasnya, sehingga Unta tidak sembarangan makan di pekarangannya. Namun cara itu tidak menghalangi Unta untuk makan rumput di pekarangan Kambing.

 

“Unta… ini kan sudah ada batasnya! Kamu jangan langgar batas ini!”, kata Kambing dengan nada jengkel.

“Terserah aku! Aku mau makan dimana bukan urusanmu!”, jawab Unta dengan nada santai.

“Tidak boleh begitu, ini kan milikku, kamu tidak boleh seenaknya mengambilnya!”, kata Kambing dengan nada jengkel.

“Aku lebih suka rumput yang ada di pekaranganmu! Ha..ha..ha…lebih enak dan gurih!”, ujar Unta balas memanasi Kambing.

“Begini saja… siapa yang memakan rumput milik tetangganya akan didenda selama dua hari dan tidak boleh makan rumput di tempat yang melanggar peraturan”, kata Kambing semakin jengkel.

“Aku tidak keberatan”, jawab Unta tetap tidak peduli dengan kejengkelan Kambing.

 

Tetapi pada kenyataannya, Untalah yang selalu melanggar kesepakatan itu. Setelah rumput di tempatnya habis, Unta beralih ke pekarangan Kambing. Hal ini membuat Kambing tidak dapat makan rumput di tempat Unta karena pekarangan Unta sudah gundul. Kambing kemudian meninggikan pagarnya dengan maksud agar Unta tidak dapat masuk ke pekarangannya. Namun karena Unta berbadan tinggi dan kakinya panjang dia tetap dapat masuk ke pekarangan Kambing dengan mudah.

 

“Bagaimana ini, sudah kutinggikan pagarnya tetapi Unta masih dapat masuk!”, kata Kambing putus asa. Kambing sudah kehilangan akal. Biasanya Unta selalu makan lebih dulu rumput yang ada di pekarangannya sendiri. Kalau rumput di pekarangannya sudah tinggal sedikit, ia lalu beralih ke pekarangan Kambing. Dan apabila rumput di pekarangannya sudah tinggi lagi, ia pun berpindah ke tempatnya sendiri.

 

Dengan kebiasaan Unta itu, Kambing berusaha menemukan pemecahan masalahnya. Ketika Unta mulai kehabisan rumput, Kambing buru-buru menyabit rumput yang ada di pekarangannya, jadi ketika Unta kehabisan rumput, dia tidak dapat makan di pekarangan Kambing.

“Luas pekaranganku lebih kecil dari pekarangan Unta, jadi aku harus lebih rajin menyabit rumput-rumputku sebelum Unta kehabisan rumput”, kata Kambing. Rumput-rumput yang disabit Kambing lalu ia simpan di dapurnya sehingga ia tidak akan kekurangan makanan. Dan Kambing melepas pagar yang mengitari rumahnya.

“Akan kubongkar pagar pembatas ini karena tidak ada gunanya lagi”, ujar Kambing.

 

Sekarang Unta tidak dapat sesukanya makan rumput di pekarangan Kambing, karena dia selalu rajin menyabit rumput di pekarangannya. Sekarang Kambing terbebas dari gangguan Unta yang seenaknya makan di halaman tetangga.