Adik-adik yang manis, judul dari kutipan Injil hari ini adalah “Ucapan Syukur dan Bahagia”. Kita tidak tahu apakah Lukas yang menulis judul ini atau ditambahkan kemudian. Akan tetapi di mana-mana saat ini kita mendengar begitu banyak orang mengatakan bahwa kunci kebahagiaan adalah: mengucap syukur! Jadi tepatlah apa yang sudah tertulis 2000 tahun yang lalu dengan kenyataan saat ini: orang yang bahagia adalah orang yang selalu mengucap syukur.

Bila kita tahu bersyukur maka kita adalah orang yang berbahagia. Dalam renungan hari ini, kita diajak mempertajam daya syukur kita, yakni dengan mempertajam kemampuan kita untuk melihat. Rupanya ada banyak orang yang sulit bersyukur karena tidak mampu melihat kekayaan realitas yang dilihatnya atau karena kekayaan itu tetap tersembunyi. Contoh sederhana: realitas 5 roti dan 2 ikan. Para Rasul tidak mampu melihat jumlah ini sebagai jumlah yang memadai untuk memberi makan 5000 orang. Jadi 5 roti dan 2 ikan tidaklah cukup di mata mereka. Di mata Yesus ternyata lain. 5 roti dan 2 ikan sudah lebih dari cukup. Jika saja semua orang yang membawa bekal makanan mau berbagi dengan mereka yang tidak membawa apa-apa.

Contoh lain: botol plastik yang dibuang adalah sampah. Tetapi bagi seorang pemulung, sampah itu adalah emas. Ada kisah nyata seorang pemulung di Kupang, NTT, yang mampu mendirikan sekolah dan membayar gaji guru dengan memulung sampah-sampah di mall. Dia bahkan mampu menyekolahkan 3 anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Ada seorang pengusaha sukses di Indonesia, Pak Ci atau Ciputra, menulis sebuah buku judulnya: Mengubah Sampah Menjadi Emas. Di sini Beliau memberi kesaksian bahwa seorang entrepreneur adalah seorang yang  mampu melihat emas di balik sampah dan mengubah sampah itu menjadi emas.

Contoh lainnya yakni: St. Yohanes Baptist De La Salle yang mendirikan tarekat Bruder-bruder De La Salle 350 tahun yang lalu. Ia melihat banyak sekali anak jalanan di kota Rheims, Perancis. Tetapi dia melihat dalam diri anak-anak ini, masa depan Perancis. Mereka adalah calon-calon pemimpin. Maka De La Salle mendidik mereka seperti mendidik para calon pemimpin dan penentu masa depan Perancis dan Gereja.

Jadi kemampuan mata dalam melihat sesuatu yang jauh melebihi realitas yang ditangkap oleh mata biasa, sangatlah penting. Itulah yang kita sebut melihat dengan mata iman. Mata iman akan membantu kita untuk melihat jauh melampaui kenyataan yang kelihatan dan menemukan berkat Tuhan yang luar biasa melimpah didalamnya. Dengan demikian kita akan selalu punya alasan untuk bersyukur dan saat kita mampu bersyukur, kita akan berbahagia. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat” (Lukas 10:23).

Kepada para Rasul dikatakan oleh Yesus: berbahagia, karena mata mereka dapat melihat Yesus sebagai Mesias. Bukan sebagai manusia biasa.  Apa yang mereka dapatkan dengan melihat Yesus sebagai Mesias, Penyelamat umat Manusia, membuat mereka tidak pernah berhenti bersyukur dan bahagia. Walaupun dalam kenyataannya mereka harus ikut memikul salib Yesus, bahkan kemudian wafat seperti Yesus.

Adik-adik yang baik, ketika menyambut Tubuh Kristus di waktu komuni, masih dapatkah kita melihat Yesus di balik rupa hosti itu? Apakah kita mampu mengucap syukur atas hosti suci ini? Apakah ada rasa bahagia dalam hati kita ketika menyambut komuni kudus itu? Bila rasa ini sudah tidak ada, atau hanya ada rasa biasa-biasa saja, itu berarti kita masih belum mampu melihat kehadiran Yesus yang nyata dan belum mampu mengucap syukur secara tepat. Jangan kita berputus asa pada rutinitas hidup keseharian.

Masa Adven ini adalah kesempatan untuk membersihkan kaca mata iman kita, mempertajam penglihatan kita, agar semakin dapat melihat realitas Kristus dalam realitas hosti kudus dan dalam pelbagai realitas kehidupan lainnya: melihat Yesus dalam diri sesama, dalam realitas lingkungan hidup dan dalam pelbagai peristiwa kehidupan, baik suka maupun derita. Ingatlah kata-kata Yesus ini: “berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat”.

Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kalian lihat. Sebab Aku berkata kepada kamu, banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kalian lihat, namun tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kalian dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Lukas 10: 23-24)