PERBEDAAN AGAMA TIDAK MENJADI MASALAH DALAM PERTEMANAN

Sejak satu tahun silam, ketika masih kelas V SD Negeri 02 Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan-Mentawai, Kamilus Samongandoat mulai terlibat dan menggiatkan diri dalam kegiatan di gereja stasi. Sahabat MEKAR kelahiran Matotonan, 18 Juni 2006 ini diminta salah satu gurunya agar aktif menggereja.

Bungsu lima bersaudara dari pasangan Matius Samongandoat (alm) dan Marta Sagoilok ini ikut kegiatan putera altar/misdinar dan lektor. Tanpa banyak komentar – atas ajakan gurunya, Pak Yosep Saeggeoni – Kamilus segera ikut latihan misdinar yang dipandu Ibu Efriyanti. “Saya mengiyakan ajakan pak guru! Lewat cara dan pelayanan seperti inilah saya ingin lebih mendekatkan diri pada Tuhan Yesus. Saya selalu berusaha giat, tekun berlatih lektor dan misdinar” ,ucapnya.

Selain memenuhi harapan guru agar dirinya aktif menggereja, Kamilus menganggap ini sebagai kesempatan berlatih agar mampu membaca kutipan Kitab Suci berbahasa Mentawai. Kamilus mengakui ada beberapa kesulitan dialaminya saat berlatih. “Saya mesti pelan-pelan membacanya. Masih terbata-bata. Bagi saya, lebih mudah membaca kutipan Kitab Suci berbahasa Indonesia. Kini, setelah setahun, kesulitan membaca kutipan Kitab Suci berbahasa Mentaawai semakin berkurang. Kini, saya lebih lancar membacanya”, katanya.

Karena masih baru setahun, Sahabat MEKAR ini mendapat kesempatan bertugas sebagai lektor saat Perayaan Sabda. Tatkala Perayaan Ekaristi, dirinya ‘berdinas’ sebagai putera altar/misdinar. Kamilus terus memantapkan diri berlatih. “Pertama kali bertugas sebagai lektor, kaki saya gemetar. Kini sudah terbiasa. Satu hari sebelum bertugas, saya berkonsentrasi berlatih dengan membaca pelan-pelan kutipan Kitab Suci tersebut di rumah”, ungkapnya.

Setamat Sekolah Dasar, penggemar aktivitas menggambar dan olahraga sepak bola ini tetap akan berniat menjadi misdinar dan lektor di tempat sekolahnya yang baru. Kamilus yang bercita-cita menjadi arsitek ini berkata, “Saya masih mau bertugas sebagai lektor dan misdinar, entah di Madobag ataupun Muara Siberut. Saya ingin mendapatkan pengalaman baru.”

Dalam pergaulan sehari-hari pun, Kamilus tidak memilih-milih maupun membeda-bedakan teman. Ia menjalin persahabatan yang akrab dengan Peprianus, Bernadus, Putri, Amir Hamza, Salmen, Sulistyowati. Beberapa di antara teman akrabnya tersebut beragama Islam. “Mereka teman-teman yang baik. Saya pun bersikap baik dengan teman. Kami selalu bermain bersama. Perbedaan agama tidak menjadi batas pertemanan. Bahkan, hingga kini pun, kami tidak pernah bertengkar, apalagi menyangkut soal perbedaan agama”, kata Kamilus lagi. (amh)